Pakistan Tempat Berkumpul Kekuatan Islam Akhir Zaman | Mimpi Syed Safdar Ali Ahmed (1947)

 

Pakistan Tempat Berkumpul Kekuatan Islam Akhir Zaman | Mimpi Syed Safdar Ali Ahmed (1947)

Pakistan Tempat Berkumpul Kekuatan Islam Akhir Zaman | Mimpi Syed Safdar Ali Ahmed (1947)

Berikut ini adalah terjemahan ringkas dari rangkuman sebuah buku berjudul “Seerat-Un-Nabi (SAW) Baad Az Wisaal-Un-Nabi (SAW) – Part 7”, karangan Abdul Majeed Siddiqui:

Beberapa hari setelah dibentuknya negara Pakistan, Syed (panggilan untuk keturunan Nabi Muhammad SAW dari cucu termuda beliau SAW) Safdar Ali Ahmed melihat sebuah mimpi dimana ada seorang bocah laki-laki suci bernama ‘Pakistan’ yg sedang berdiri di hadapan seorang Alim berpakaian putih bersinar. Syed kemudian melanjutkan kisahnya, seperti ini: “Saya mendadak tahu bahwa orang Alim tersebut adalah Nabi Khidir AS yang sedang memberikan petunjuk-petunjuk bermanfaat kepada bocah laki-laki tadi. Saya berdiri di dekat mereka namun saya tidak dapat mendengar ucapan mereka meskipun saya melihat bibir mereka bergerak. Nabi Khidir AS kemudian melihat ke arah saya dan menasehati: ‘Kemanapun Pakistan pergi, ikutilah dia!’. Usai mengucapkan ini, sosok beliau AS mulai menghilang.

Saya mengangkat pandangan saya dan mendapati kami berdua (Syed dan Pakistan) berada di dalam hutan belantara yang menakutkan. Pegunungan besar, puncak-puncak gunung dan jurang-jurang terjal mengelilingi kami dari segala sisi. Tidak ada jalan sepanjang mata memandang. Ketika Pakistan mulai berjalan, sebuah jalan yang lebar nan kokoh mulai terbentuk dengan sendirinya. Seolah-olah, jalan tersebut melebarkan dirinya sendiri di setiap langkah yang Pakistan ambil. Kemudian saya melihat Pakistan melaju sekencang mobil, dan hutan rimba, pegunungan dan jurang-jurang tertinggal di belakang dalam waktu cepat. Setelah menempuh jarak yang cukup jauh, kami mencapai sebuah area terbuka yang luas dan mendapati makamnya Nabi Muhammad SAW ada di hadapan kami. Makam beliau SAW berwarna merah, bukan hijau. Mungkin karena pada masa itu darah umat Muslim tumpah-ruah seperti air di India (perang India-Pakistan, 1947). Kemudian, saya melihat sebuah sungai besar mengalir antara kami dan makamnya Nabi Muhammad SAW, yangmana sungai itu sedang banjir besar dan ombak alirannya memuncah naik turun bagaikan pegunungan kecil. Saya mendadak mengetahui bahwa makam Nabi Muhammad SAW adalah tujuan perjalanan kami dan kami seharusnya mengabsen kehadiran kami kesana. Saya memberitahu Pakistan bahwa saya bukan perenang dan saya akan tenggelam begitu saja bila masuk ke sungai itu. Pakistan memberitahu saya bahwa dia akan mencapai lokasi tujuan dengan cara apapun. Sesudah itu, dia mengambil air wudhu dan lompat masuk ke dalam sungai. Ombak-ombak yg tinggi itu menyeretnya ke atas dan melemparnya ke bawah, namun ia terus berenang menuju makamnya Nabi Muhammad SAW, sedemikian rupa hingga ia menghilang dari pandangan saya.

Saya berbalik dan menyadari sosok sahabat-sahabat Allah (para Alim dan orang suci) tenggelam dalam puja-pujian mereka kepada Allah. Salah satu dari mereka memanggil nama saya dan berkata: “Perlukah kami beritakan kepadamu sebuah kabar baik?” saat saya mengekspresikan ketertarikan untuk mendengar kabar tersebut, dia melanjutkan: “Temanmu, Pakistan, telah mencapai makamnya Nabi Muhammad SAW tanpa kurang satu apapun. Dia (Pakistan) merasa sedikit kecewa/marah namun Nabi Yangmulia SAW meletakkan tangan beliau SAW di punggungnya sehingga lenyaplah segala kesusahannya dan dia menjadi bergembira.”

Saya merasa luar biasa gembira saat mendengar ini. Saya menghela nafas, berharap saya bisa memperoleh kemuliaan yang sama bisa melihat sosok Nabi Muhammad SAW.

Saya kemudian melanjutkan perjalanan dan melihat sebuah desa besar. Saat saya melintasi lorong-lorong besar disana, saya melihat padang hijau nan luas dimana Nabi Muhammad SAW sedang berdiri dengan pakaian serba putih bercahaya. Matahari bersinar di tangan kanan mulia beliau SAW yang dia SAW angkat ke atas. Bocah bernama Pakistan tadi berdiri di hadapan beliau SAW dengan kedua tangan dilipat. Saya bergabung bersama Pakistan untuk menyaksikan pemandangan yang suci nan mengagumkan ini.

Saya menyampaikan mimpi saya ini kepada seorang Alim. Orang alim itu berkomentar: “Saya telah melakukan Istiqarah, lalu saya melihat suatu saat di masa depan, dimana negara Pakistan akan berkembang luar biasa. Ia akan menjadi negara yang paling kuat dan sebuah sistem Khalifatur Rasyida (Pemimpin Yang Terbimbing) akan berdiri yang akan menebarkan keadilan untuk kesemuanya.””

Mian Abdur Rasheed Shaheed mengulang kembali mimpi ini di dalam kolom dua-bahagiannya berjudul ‘Noor-e-Baseerat’ dlm koran Nawa-i-Waqt tanggal 8 dan 9 Februari 1980.

 

 

 https://kebangkitanumatislamakhirzaman.wordpress.com/2017/05/29/pakistan-tempat-berkumpul-kekuatan-islam-akhir-zaman-bagian-2/

Comments

Popular Posts